Jumat, 24 Juni 2011

Lancar Menulis

Lancar Menulis
(Korelasi Antara Bakat, Kompetensi, dan Kegemaran Membaca)
Oleh : Eka Nurcahyani


ABSTRAK
Menulis merupakan sebuah pekerjaan sulit bagi sebagian orang, namun hal tersebut bukanlah hambatan yang tidak bisa diatasi. Bakat adalah hal yang menolong seseorang dalam menulis. Meski begitu, pada dasarnya menulis adalah sebuah kompetensi yang bisa dipelajari. Dalam menulis, kegemaran membaca sangat berpengaruh dalam kekayaan dan keserasian wawasan dengan materi tulisan. Menulis adalah sebuah keterampilan yang bisa dikuasai melalui praktik dan latihan.
KATA KUNCI : Menulis, mengarang, bakat, kompetensi, membaca.

Setiap orang tentu bisa menulis, menuangkan semua yang ada di pikiran dalam bentuk tulisan. Kemudian yang membedakan adalah apakah tulisannya itu enak dibaca atau tidak, informatif dan menggunakan tata bahasa yang baik atau tidak. Menulis bisa tentang apa saja, tidak terkecuali dan tanpa batasan. Apa saja bisa dibuat tulisan, bahkan jika dikembangkan dengan baik bisa menjadi tulisan yang menarik, informatif, dan mendidik.

Menulis dan mengarang, samakah?
Ada dua kosakata yang sering digunakan secara bergantian dalam bahasa sehari-hari, yaitu menulis dan mengarang. Samakah menulis dan mengarang itu? Jawabnya bisa "YA" bisa "TIDAK". Mengapa demikian? Hal itu telah dijelaskan oleh Asul Wiyanto dalam bukunya yang berjudul Terampil Menulis Paragraf. Dalam buku tersebut, Asul Wiyanto (2004:2-3) menyatakan bahwa kata menulis dan mengarang memiliki persamaan dan perbedaan sebagai berikut:
• Persamaannya, kegiatan menulis dan mengarang adalah sama-sama mengungkapkan gagasan. Baik penulis maupun pengarang menyampaikan gagasan melalui huruf dan tanda baca.
• Perbedaannya, kegiatan menulis menghasilkan tulisan. Contoh tulisan antara lain makalah, artikel, buku umum, dan buku pelajaran. Sedangkan mengarang menghasilkan karangan. Contoh karangan antara lain puisi, cerpen, novel, dan drama.
Lantas apa yang membedakan antara tulisan dan karangan? Pada umumnya tulisan dilandasi fakta, pengalaman, pengamatan, penelitian, atau analisis suatu masalah. Sebaliknya, karangan lebih didominasi oleh imajinasi dan perasaan pengarang. Namun dalam pemakaian sehari-hari, arti kata menulis telah mencakupi kata mengarang. Seperti pada bukti yang dipaparkan oleh Asul Wiyanto (2004:3) bahwa sering kita menyebut penulis cerpen, penulis novel, atau penulis drama. Sebaliknya tidak pernah kita menyebut pengarang makalah, pengarang laporan, dan sebagainya. Hal itu dapat dibandingkan, misalnya, dengan kata mahasiswa dan mahasiswi. Kata mahasiswa mencakupi laki-laki dan perempuan, sedangkan mahasiswi hanya perempuan. Jadi, arti kata menulis sudah mencakupi kata menulis mengarang.

Menulis bukan bakat, namun kompetensi
Bakat seringkali dihubungkan dengan kepandaian menulis, seakan bakat merupakan faktor yang paling menentukan. Padahal kepandaian mengarang lebih tepat dilihat sebagai kepandaian praktis, sehingga adanya keinginan dan keseriusan melatih diri akan memberikan hasil yang lebih maksimal. Sesuai dengan yang diungkapkan oleh Asul Wiyanto (2004:7-8) bahwa menulis memang gampang-gampang susah. Gampang kalau sudah sering melakukannya dan susah kalau belum terbiasa. Sebab menulis termasuk jenis keterampilan. Sebagai keterampilan, sama seperti keterampilan yang lain, untuk memperolehnya harus melalui belajar dan berlatih. Itulah kuncinya. Hal ini dapat dibandingkan dengan kegiatan masa kecil kita, yaitu ketika belajar mengendarai sepeda. Sering jatuh dan luka-luka sudah biasa karena belum terampil. Tetapi, kita tentu masih ingat bahwa makin sering berlatih, makin jarang jatuh dan akhirnya dapat mengendarai sepeda. Mula-mula hanya berani mengendarai di halaman rumah, kemudian agak jauh, dan akhirnya berani sampai ke mana-mana.
Gagasan Asul juga diperkuat oleh pendapat A.Hadi Nafiah (1981:viii) bahwa bakat yang besar tanpa dikembangkan dan diarahkan dalam latihan-latihan, sulit diprediksikan mampu membuahkan kepandaian yang diinginkan. A.Hadi Nafiah (1981:ix) juga menambahkan bahwa bakat boleh jadi dapat menolong. Tetapi kunci utamanya justru terletak lebih banyak pada keinginan yang besar dan kemauan yang keras dalam berlatih. Lantas mengapa ada anggapan bahwa menulis itu sulit? Jika ditelaah lebih lanjut, sebenarnya menulis itu bukan pekerjaan yang sulit melainkan juga tidak mudah. Untuk memulai menulis, setiap penulis tidak perlu menjadi seorang penulis yang terampil. Menurut A.Hadi Nafiah (1981:ix), teori-teori atau tuntunan menulis agaknya perlu pula dipelajari. Belajar teori menulis itu mudah, tetapi untuk mempraktikkannya tidak cukup sekali dua kali. Agar menulis menjadi gampang, harus ada kesediaan untuk melalui setiap proses pembelajaran yang harus dilewati jika ingin mencapai tahap "gampang" itu (Andrias Harefa, 2002:xii). Karena semua hal mudah pasti berawal dari hal-hal yang sulit.
Kunci dari bisa menulis adalah latihan dan latihan. Intensitas latihan menulis akan menjadikan seseorang terampil dalam bidang tulis-menulis. Keterampilan menulis dapat digunakan untuk mencatat atau merekam, meyakinkan, melaporkan, memberi informasi dan mempengaruhi pembaca (Henry Guntur Tarigan, 1986:22). Maksud dan tujuan seperti itu akan dapat diraih dengan baik oleh orang-orang yang dapat menyusun dan merangkai jalan pikiran dan mengemukakannya secara tertulis dengan jelas, lancar, dan komunikatif. Sebaiknya menulis itu menjadi sebuah rutinitas seperti makan. Makan adalah sebuah rutinitas yang sudah terjadwalkan yaitu tiga kali sehari. Hingga akhirnya terbiasa menjalankan rutinitas makan. Ketika pagi sarapan, siang makan siang, dan malam makan malam. Rutinitas itu akan secara otomatis dilakukan dengan ringan dan tanpa beban. Menulis pun demikian, harus terjadwalkan. Kalau belum bisa tiga kali sehari, dapat dijadwalkan tiga hari sekali. Kalau masih belum bisa tiga hari sekali, minimal satu minggu sekali. Tidak ada waktu yang tepat untuk memulai menulis. Artinya, kapan pun, di mana pun, dan dalam situasi yang bagaimana pun seseorang dapat melakukannya. Ketakutan akan kegagalan bukanlah penyebab yang harus dipertahankan. Teori sebanyak dan sebaik apapun yang diserap hanya akan berhenti jika tidak pernah mulai berlatih menulis.

Faktor yang membuat menulis dianggap sulit
Pada dasarnya, ada beberapa faktor yang menyebabkan sebagian banyak orang beranggapan bahwa menulis itu sulit, antara lain takut melakukan kesalahan, kurang percaya diri, perasaan tidak bisa, lemahnya kesadaran akan pentingnya menulis, tidak tahu manfaat menulis, keterbatasan mengakses informasi sehingga tidak tahu apa yang harus ditulis, dan tidak adanya kebiasaan menulis. Semua faktor penghambat itu harus segera dibuang jauh-jauh. Semua ide yang muncul akan menjadi sia-sia karena kembali terkubur dalam dasar otak akibat rasa takut salah. Padahal setiap orang tentu saja pernah berbuat salah. Tetapi, yang lebih salah adalah ketika kita menyerah dan berhenti menulis karena takut mengalami kesalahan. Kita harus mengakui dan belajar dari kesalahan tersebut. Manusia yang benar bukanlah manusia yang tidak pernah berbuat salah. Tapi, manusia yang benar adalah manusia yang mau belajar dari setiap kesalahannya, serta mengembangkan diri atas dasar setiap masalah yang pernah diperbuat. Faktor kurangnya rasa percaya diri merupakan hal yang paling sering dialami oleh para pemula yang baru mulai belajar menulis. Salah, jika orang tidak percaya diri dalam menulis, dan akhirnya tidak menulis sama sekali. Kita harus belajar menghargai diri sendiri, menyakinkan diri, bahwa kita mampu dan berpotensi menulis dengan baik. Belajar menulis adalah salah satu sarana kita dalam meningkatkan rasa percaya diri. Dengan terus belajar, kualitas tulisan kita pun akan bertambah baik.

Tradisi menulis sebagai tolok ukur perkembangan ilmu pengetahuan
Menurut Henry Guntur Tarigan (1986:22) pada prinsipnya fungsi utama dari tulisan adalah sebagai alat komunikasi yang tidak langsung. Menulis juga sangat penting bagi pendidikan karena memudahkan kita untuk berpikir secara kritis. Kemajuan ilmu pengetahuan yang berkembang sedemikian pesat, sudah seharusnya disertai dengan kesediaan sarana seperti buku atau bacaan yang banyak dan up to date di setiap lembaga atau satuan pendidikan. Tampaknya perlu segera dicari suatu strategi yang tepat untuk menyelesaikan persoalan ini, di mana menurut pendapat Henry Guntur Tarigan (1986:7) tulisan yang baik merupakan komunikasi pikiran dan perasaan yang efektif atau tepat guna. Dalam hal ini diperlukan pemahaman bahwa ilmu pengetahuan akan berkembang jika disertai dengan tradisi menulis, sesuai dengan yang diungkapkan Henry Guntur Tarigan (1986:19) bahwa kemajuan suatu bangsa dan negara dapat diukur dari maju atau tidaknya komunikasi tulis bangsa tersebut. Maju atau tidaknya komunikasi tulis dapat dilihat dan diukur dari kualitas dan kuantitas hasil tulisan yang tercetak di negara tersebut. Hal tersebut dapat diartikan bahwa makin banyak orang yang suka menulis di suatu bangsa, makin majulah banngsa itu (A.Hadi Nafiah, 1981:6). Dengan kata lain, ilmu pengetahuan akan tumbuh jika ada tradisi menulis di kalangan masyarakat, khususnya masyarakat akademik. Henry Guntur Tarigan (1986:4) juga mengatakan bahwa keterampilan menulis merupakan suatu ciri dari orang yang terpelajar atau bangsa yang terpelajar. Namun seperti yang kita tahu, tradisi lisan masih jauh lebih dominan dibanding tradisi menulis. Orang bisa betah berbicara berjam-jam, tapi segera pusing jika dihadapkan dengan tugas menulis. Tapi memang menulis itu tidak sepenuhnya mudah. Itu sebabnya, dari empat keterampilan berbahasa (mendengar, berbicara, membaca, dan menulis), keterampilan menulis berada pada urutan terakhir karena dianggap paling sulit.
Menulis melibatkan banyak faktor, seperti apa yang ditulis, untuk siapa tulisan itu dimaksudkan, dan bagaimana menulisnya. Menulis juga menuntut pengalaman, waktu, kesempatan, latihan, keterampilan-keterampilan khusus, dan praktik langsung (Henry Guntur Tarigan, 1986:8). Namun demikian, kendati merupakan keterampilan yang paling sulit, tidak berarti keterampilan menulis tidak bisa dipelajari dan dikuasai. Sebelum mulai berlatih untuk menulis, ada beberapa hal yang harus dikukuhkan terlebih dahulu sebagai pondasi dasar, yaitu keyakinan bahwa "aku bisa menulis", harus dibangun kuat. Keyakinan itu harus didorong dengan rasa cinta, sebuah kekuatan luar biasa di bawah sadar yang membuat seseorang menjadi sensitif dan peka terhadap apa yang terjadi di sekitarnya. Dengan kecintaan, menulis akan menjadi semudah menulis puisi cinta yang romantis saat jatuh cinta. Maka hati akan mudah digerakkan. Selain cinta, juga diperlukan komitmen, kesungguhan hati, tekad kuat, keyakinan, dan percaya diri untuk bisa menulis (Andrias Harefa, 2002:35).
"Menulislah pada saat awal dengan hati. Setelah itu, perbaiki tulisan itu dengan pikiran. Kunci pertama menulis adalah bukan berpikir, melainkan mengungkapakan apa saja yang dirasakan", itulah ungkapan dari William Forreser yang saya baca dari sebuah artikel Habiburrahman El Shirazy. Agar kemampuan menulis berkembang menjadi kebiasaan, maka latihan adalah bangunan berikutnya. Tulis apa saja yang bisa ditulis. Habiburrahman, dalam artikelnya juga menyarankan untuk mengingat pesan J.K. Rowling "Mulailah menulis apa saja yang kamu tahu, menulislah tentang pengalaman dan perasaanmu sendiri".

Membaca, salah satu cara untuk lancar menulis
Ide bisa berasal dari apa saja dan di mana saja. Hanya diperlukan situasi yang kondusif dan kebiasaan mengamati lingkungan sekitar agar ide itu muncul sebagai sebuah kebiasaan. Untuk mengembangkan ide-ide tersebut, dapat dilakukan dengan rajin membaca (Andrias Harefa, 2002:25). Kebiasaan menulis itu setali tiga uang dengan kebiasaan membaca. Orang yang terbiasa menulis, tentu ia gemar membaca. Sementara orang yang jarang membaca, tentu akan terbata-bata ketika harus menulis. Kian banyak buku yang dibaca, kian banyak bahan tambahan yang didapat, maka materi tulisan pun akan makin bervariasi. Bahan-bahan tambahan itu akan memperkaya keserasian ide dengan wawasan. Menurut Mardjuki (dalam Andrias Harefa, 2002:31), untuk mengolah bahan-bahan itu ada tiga cara, yaitu 3N : Niteni (mengamati), Nirokke (meniru), dan Nambahi (menambahi). Amati saja beberapa tulisan orang lain, pahami karakternya, tiru gayanya atau pola pikirannya, buat dengan gaya sendiri dengan menambah di sana –sini. Menjadi diri sendiri bukan berarti harus lain daripada yang lain. Bukan berarti pula harus beda dalam segala hal, karena ada kalanya meniru itu baik. Meniru dalam hal ini bukanlah meniru agar sama persis, melainkan mempelajari dan menyatukan beberapa karakter yang berbeda sehingga menghasilkan sebuah karakter yang benar-benar baru. Itulah seni menulis, seperti penjahit yang menyatukan bahan demi bahan. Beda orang beda hasil jahitan. Keterampilan dan latihan terus-menerus akan menghasilkan karya yang berbeda tergantung pada kualitas dan kualitas latihannya.


Kesimpulan dan Saran

Dari berbagai uraian tentang menulis yang telah saya jelaskan, dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa sesungguhnya tidak ada hambatan yang berarti ketika kita belajar menulis. Pada awalnya memang terasa sulit, tetapi latihan menulis secara terus-menerus akan membuat kita sadar, bahwa dalam latihan menulis, sesungguhnya tidak ada hambatan yang tidak bisa ditakhlukkan. Kita harus yakin bahwa kita bisa menulis. Tidak ada yang patut kita jadikan sebagai pembenaran untuk berhenti menulis. Sebab, menulis merupakan hal mudah yang dapat dikerjakan oleh setiap orang. Yang diperlukan adalah semangat, rasa pantang menyerah, dan tekad yang kuat untuk menulis. Terus berlatih dan jangan cepat merasa puas. Kita akan bisa, karena telah terbiasa.

Daftar Rujukan

Andrias Harefa. 2002. Agar Menulis-Mengarang Bisa Gampang. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Asul Wiyanto. 2004. Terampil Menulis Paragraf. Jakarta: Grasindo
A.Hadi Nafiah. 1981. Anda Ingin Jadi Pengarang. Surabaya: Usaha Nasional
Henry Guntur Tarigan. 1986. Menulis Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa
Habiburrahman El Shirazy. 2005. Mengenal Teknik Penulisan Cerpen.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silakan berkomentar..